Mawardi Jeumpa, Ketua Dewan Pakar Majelis Pendidikan Kabupaten Aceh Utara Periode 2023–2027 sekaligus tokoh akademisi Aceh Utara, menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum reflektif untuk mengenang sejarah panjang kontribusi santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran ulama dan santri yang melalui pesantren, dakwah, pendidikan, serta gerakan perjuangan telah menanamkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang menegaskan keterlibatan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran kebangsaan, keberanian moral, dan komitmen terhadap kemerdekaan.
Lebih lanjut, Mawardi Jeumpa berpandangan bahwa memperingati Hari Santri harus melampaui kegiatan seremonial dan simbolis. Peringatan ini perlu menjadi ruang refleksi untuk memahami kembali nilai perjuangan, keikhlasan, pengorbanan, dan tanggung jawab sosial yang diwariskan oleh generasi santri terdahulu. Dalam konteks pendidikan kontemporer, pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman pemahaman agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Karena itu, penguatan mutu pendidikan pesantren perlu berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi keilmuan, pembentukan karakter, peningkatan literasi, dan pengembangan kompetensi santri. Ia menilai bahwa penghormatan paling bermakna terhadap jasa para santri bukan hanya melalui peringatan setiap tahun, melainkan melalui komitmen nyata untuk memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat kapasitas guru, dan memberikan ruang yang lebih besar bagi santri untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, warisan perjuangan santri dapat terus hidup sebagai nilai yang relevan bagi generasi masa kini.
Sebagai Ketua Dewan Pakar Majelis Pendidikan Kabupaten Aceh Utara, Mawardi Jeumpa mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan, pimpinan pesantren, tenaga pendidik, pemerintah, dan masyarakat untuk menjadikan Hari Santri sebagai momentum memperkuat sinergi dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berakhlakul karimah. Menurutnya, santri masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi pendahulunya, mulai dari perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, hingga kompleksitas persoalan kebangsaan. Namun, nilai-nilai dasar perjuangan santri seperti keikhlasan, kedisiplinan, keberanian, kecintaan terhadap tanah air, dan penghormatan terhadap ilmu tetap relevan sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan tersebut. Santri diharapkan mampu menjadi pelopor moderasi, penjaga persatuan, penggerak literasi, serta agen perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Menghormati sejarah perjuangan santri berarti melanjutkan nilai-nilai perjuangannya melalui pendidikan, pengabdian, dan keteladanan. Santri harus tumbuh menjadi generasi yang kuat dalam iman, luas dalam wawasan, cerdas dalam berpikir, dan mulia dalam akhlak,” demikian pesan yang menegaskan pentingnya menjadikan Hari Santri sebagai gerakan moral dan intelektual yang berkelanjutan demi kemajuan pendidikan dan masa depan Indonesia.





